Follow on FaceBook

Sport

Media Sosial

Tampilkan postingan dengan label Media Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media Sosial. Tampilkan semua postingan

Ingin Hidup Lebih Baik? Batasi Penggunaan Media Sosial!

Ingin Hidup Lebih Baik? Batasi Penggunaan Media Sosial!

Membatasi Penggunaan Media Sosial Bisa Bikin Hidup Lebih Baik
Studi mengenai hubungan antara pemakaian media sosial dan kesehatan mental sudah dilakukan beberapa kali. Salah satu yang kerap menjadi perhatian adalah rasa depresi dan kesepian yang berhubungan dengan pemakaian media sosial.

Untuk menjawab hal tersebut, peneliti dari Universitas Pennslyvania pun melakukan studi terkait hubungan antara rasa depresi dan pemakaian media sosial.

Hasilnya, seseorang ternyata merasa lebih baik saat tidak mengakses media sosial. Dikutip dari Quartz, Minggu (18/11/2018), seseorang yang meninggalkan media sosial sejenak akan merasa lebih baik.

"Kami menemukan pembatasan pemakaian media sosial setidaknya 30 menit per hari, secara signifikan akan membawa perubahan yang lebih baik dari sisi mental bagi penggunanya,' tutur para peneliti dalam studinya.

Dalam studi kali ini, menurut ketua tim peneliti yang bernama Melissa G. Hunt, pihaknya memperluas cakupan studi kali ini ke beberapa media sosial lain. Sebab, dalam studi sebelumnya, objek studi lebih difokuskan pada Facebook.

Selama studi, para peneliti merekrut 143 mahasiswa untuk melakukan dua eksperimen berbeda. Satu dilakukan saat musim semi sedangkan kelompok lain melakukan eksperimen ketika musim gugur.

Masing-masing subjek penelitian diharuskan memiliki akun Facebook, Instagram, Snapchat, termasuk iPhone. Smartphone besutan Apple ini dipilih karena mampu menghitung durasi penggunaan aplikasi yang aktif dibuka.

Lalu, mereka akan memantau penggunaan media sosial para subjek tersebut selama beberapa minggu. Setelahnya, mereka akan diberi kuisioner yang berhubungan dengan kondisi mentalnya.

Selama tiga minggu berikutnya, masing-masing kelompok diberi tugas berbeda. Satu kelompok tetap menggunakan media sosial seperti biasa, sedangkan kelompok lain dibatasi penggunaannya hingga 10 menit per hari.

"Dari eksperimen itu, kami menemukan bahwa mengurangi pemakaian media sosial secara signifikan berpengaruh pada menurunnya rasa kesepian dan depresi," tutur Hunt.

Kendati demikian, studi ini masih memiliki keterbatasan sebab studi ini hanya terbatas untuk iPhone saja dan tidak mencantumkan Twitter sebagai objek penelitian.

Oleh sebab itu, para peneliti menyebut masih ada kesempatan untuk studi lebih lanjut. Kendati demikian, mereka belum mengungkap lebih lanjut kemungkinan adanya penelitian selanjutnya.
3 dari 3 halaman

Studi Soal Media Sosial dan Depresi
Dua tahun lalu, sebuah penelitian mengungkap penggunaan media sosial (medsos) di internet selama lebih dari dua jam menunjukan adanya tanda depresi.

Penelitian tersebut juga telah dilakukan ke subjek kalangan remaja berumur 13-17 tahun yang sering menggunakan smartphone-nya untuk 'berinteraksi' di jejaring sosial.

Mengutip informasi The Independent, penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti asal Kanada, International Association of Cyber Psychology, Training & Rehabilitation (iACToR) dengan melakukan observasi ke 750 subjek yang merupakan remaja dari berbagai institusi pendidikan di wilayah Ontario.

Penelitian yang juga dipublikasikan lewat jurnal Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking ini mengungkap, penggunaan medsos yang terlampau berlebihan rupanya mampu menunjukkan indikasi si pemilik jejaring sosial memiliki masalah gangguan mental dan memicu depresi.

"Kapasitas penggunaan jejaring sosial harusnya dibatasi sebagaimana mestinya. Jika digunakan terus menerus dalam jangka waktu berjam-jam, hal tersebut akan menciptakan rasa candu bagi para pengakses," ungkap tim peneliti.

Menurutnya, hal itu mengubah cara pandang penggunanya jejaring sosial termasuk ke hal primer di dalam kehidupan pengguna. Bahayanya, penggunaan jejaring sosial secara berlebihan dapat berdampak negatif pada penggunanya.

"Jejaring sosial berfungsi sebagai alat komunikasi dan pencari informasi jika memang dibutuhkan. Namun hal tersebut bisa berubah fungsi 360 derajat menjadi sebuah 'pengisi dahaga' penggunanya ketika sedang kesepian," tambahnya.

Observasi yang telah dilakukan tim peneliti menyimpulkan sebagian besar dari 750 subjek anak remaja tersebut memang kerap kali tidak memiliki kegiatan apa-apa khususnya pada waktu malam hari. Oleh karena itu, mereka mengakses jejaring sosial sebagai 'teman' agar bisa mengisi kesepian mereka.

"Hal tersebut menunjukkan bahwa mereka mengalami tanda depresi, jika ini terus dilakukan, mereka akan melakukan hal lebih ekstrem seperti tindakan bunuh diri atau cyber bullying," tukasnya.

Mereka menambahkan, seharusnya ketika kesepian para anak remaja bisa melakukan kegiatan positif yang lebih menggaet mereka ke perkembangan fisik dan mental yang lebih sehat, seperti berolahraga, membaca buku, mendengarkan musik dan masih banyak lagi.

"Sudah seharusnya fungsi dari jejaring sosial dibatasi. Selagi masih ada waktu dan belum terlambat, kini peran orang tua yang harus mengawasi anak mereka agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. (Liputan6).*

Membatasi Penggunaan Media Sosial Bisa Bikin Hidup Lebih Baik
Studi mengenai hubungan antara pemakaian media sosial dan kesehatan mental sudah dilakukan beberapa kali. Salah satu yang kerap menjadi perhatian adalah rasa depresi dan kesepian yang berhubungan dengan pemakaian media sosial.

Untuk menjawab hal tersebut, peneliti dari Universitas Pennslyvania pun melakukan studi terkait hubungan antara rasa depresi dan pemakaian media sosial.

Hasilnya, seseorang ternyata merasa lebih baik saat tidak mengakses media sosial. Dikutip dari Quartz, Minggu (18/11/2018), seseorang yang meninggalkan media sosial sejenak akan merasa lebih baik.

"Kami menemukan pembatasan pemakaian media sosial setidaknya 30 menit per hari, secara signifikan akan membawa perubahan yang lebih baik dari sisi mental bagi penggunanya,' tutur para peneliti dalam studinya.

Dalam studi kali ini, menurut ketua tim peneliti yang bernama Melissa G. Hunt, pihaknya memperluas cakupan studi kali ini ke beberapa media sosial lain. Sebab, dalam studi sebelumnya, objek studi lebih difokuskan pada Facebook.

Selama studi, para peneliti merekrut 143 mahasiswa untuk melakukan dua eksperimen berbeda. Satu dilakukan saat musim semi sedangkan kelompok lain melakukan eksperimen ketika musim gugur.

Masing-masing subjek penelitian diharuskan memiliki akun Facebook, Instagram, Snapchat, termasuk iPhone. Smartphone besutan Apple ini dipilih karena mampu menghitung durasi penggunaan aplikasi yang aktif dibuka.

Lalu, mereka akan memantau penggunaan media sosial para subjek tersebut selama beberapa minggu. Setelahnya, mereka akan diberi kuisioner yang berhubungan dengan kondisi mentalnya.

Selama tiga minggu berikutnya, masing-masing kelompok diberi tugas berbeda. Satu kelompok tetap menggunakan media sosial seperti biasa, sedangkan kelompok lain dibatasi penggunaannya hingga 10 menit per hari.

"Dari eksperimen itu, kami menemukan bahwa mengurangi pemakaian media sosial secara signifikan berpengaruh pada menurunnya rasa kesepian dan depresi," tutur Hunt.

Kendati demikian, studi ini masih memiliki keterbatasan sebab studi ini hanya terbatas untuk iPhone saja dan tidak mencantumkan Twitter sebagai objek penelitian.

Oleh sebab itu, para peneliti menyebut masih ada kesempatan untuk studi lebih lanjut. Kendati demikian, mereka belum mengungkap lebih lanjut kemungkinan adanya penelitian selanjutnya.
3 dari 3 halaman

Studi Soal Media Sosial dan Depresi
Dua tahun lalu, sebuah penelitian mengungkap penggunaan media sosial (medsos) di internet selama lebih dari dua jam menunjukan adanya tanda depresi.

Penelitian tersebut juga telah dilakukan ke subjek kalangan remaja berumur 13-17 tahun yang sering menggunakan smartphone-nya untuk 'berinteraksi' di jejaring sosial.

Mengutip informasi The Independent, penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti asal Kanada, International Association of Cyber Psychology, Training & Rehabilitation (iACToR) dengan melakukan observasi ke 750 subjek yang merupakan remaja dari berbagai institusi pendidikan di wilayah Ontario.

Penelitian yang juga dipublikasikan lewat jurnal Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking ini mengungkap, penggunaan medsos yang terlampau berlebihan rupanya mampu menunjukkan indikasi si pemilik jejaring sosial memiliki masalah gangguan mental dan memicu depresi.

"Kapasitas penggunaan jejaring sosial harusnya dibatasi sebagaimana mestinya. Jika digunakan terus menerus dalam jangka waktu berjam-jam, hal tersebut akan menciptakan rasa candu bagi para pengakses," ungkap tim peneliti.

Menurutnya, hal itu mengubah cara pandang penggunanya jejaring sosial termasuk ke hal primer di dalam kehidupan pengguna. Bahayanya, penggunaan jejaring sosial secara berlebihan dapat berdampak negatif pada penggunanya.

"Jejaring sosial berfungsi sebagai alat komunikasi dan pencari informasi jika memang dibutuhkan. Namun hal tersebut bisa berubah fungsi 360 derajat menjadi sebuah 'pengisi dahaga' penggunanya ketika sedang kesepian," tambahnya.

Observasi yang telah dilakukan tim peneliti menyimpulkan sebagian besar dari 750 subjek anak remaja tersebut memang kerap kali tidak memiliki kegiatan apa-apa khususnya pada waktu malam hari. Oleh karena itu, mereka mengakses jejaring sosial sebagai 'teman' agar bisa mengisi kesepian mereka.

"Hal tersebut menunjukkan bahwa mereka mengalami tanda depresi, jika ini terus dilakukan, mereka akan melakukan hal lebih ekstrem seperti tindakan bunuh diri atau cyber bullying," tukasnya.

Mereka menambahkan, seharusnya ketika kesepian para anak remaja bisa melakukan kegiatan positif yang lebih menggaet mereka ke perkembangan fisik dan mental yang lebih sehat, seperti berolahraga, membaca buku, mendengarkan musik dan masih banyak lagi.

"Sudah seharusnya fungsi dari jejaring sosial dibatasi. Selagi masih ada waktu dan belum terlambat, kini peran orang tua yang harus mengawasi anak mereka agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. (Liputan6).*

Studi: Media Sosial Menurunkan Kecerdasan

Studi: Media Sosial Menurunkan Kecerdasan

Media Sosial menurunkan kecerdasan. Selain itu, media sosial juga bisa membuat seseorang kesepian dan memunculkan pemikiran negatif terhadap sesama pengguna medsos.

Studi: Media Sosial Menurunkan Kecerdasan
Dilansir dari Mindbodygreen, sebuah penelitain yang diterbitkan dalam Social Science Computer Review menemukan bahwa kebiasaan menghabiskan waktu di media sosial sebenarnya bisa mengacaukan kemampuan kita dalam berpikir rasional.

Penelitian yang dilakukan di University Buffalo melakukan eksperimen interaksi sosial secara langsung dan tidak langsung (dunia maya) dan menunjukkan bahwa mereka yang hanya berinteraksi lewat dunia maya memiliki pemikiran negatif lebih besar terhadap orang yang dilihatnya dari media sosial, dibanding yang bertemu dan berinteraksi langsung.

Hal ini secara alami juga menurunkan tingkat kecerdasan seseorang karena menurut peneliti, membentuk hubungan dan menjadi anggota kelompok adalah dua motivasi mendasar perilaku manusia, sehingga sebagian besar dari kita mencurahkan banyak energi kita untuk menyesuaikan diri.

Ketika kita merasa ditinggalkan, diabaikan atau tidak masuk dalam golongan, maka perasaan negatif akan meningkat dan menahan pikiran untuk berpikir cerdas dan bebas. Bukan hanya itu, tingkat stres juga meningkat karena merasa kesepian.

Sumber

Media Sosial menurunkan kecerdasan. Selain itu, media sosial juga bisa membuat seseorang kesepian dan memunculkan pemikiran negatif terhadap sesama pengguna medsos.

Studi: Media Sosial Menurunkan Kecerdasan
Dilansir dari Mindbodygreen, sebuah penelitain yang diterbitkan dalam Social Science Computer Review menemukan bahwa kebiasaan menghabiskan waktu di media sosial sebenarnya bisa mengacaukan kemampuan kita dalam berpikir rasional.

Penelitian yang dilakukan di University Buffalo melakukan eksperimen interaksi sosial secara langsung dan tidak langsung (dunia maya) dan menunjukkan bahwa mereka yang hanya berinteraksi lewat dunia maya memiliki pemikiran negatif lebih besar terhadap orang yang dilihatnya dari media sosial, dibanding yang bertemu dan berinteraksi langsung.

Hal ini secara alami juga menurunkan tingkat kecerdasan seseorang karena menurut peneliti, membentuk hubungan dan menjadi anggota kelompok adalah dua motivasi mendasar perilaku manusia, sehingga sebagian besar dari kita mencurahkan banyak energi kita untuk menyesuaikan diri.

Ketika kita merasa ditinggalkan, diabaikan atau tidak masuk dalam golongan, maka perasaan negatif akan meningkat dan menahan pikiran untuk berpikir cerdas dan bebas. Bukan hanya itu, tingkat stres juga meningkat karena merasa kesepian.

Sumber

Media Mainstream Masih Sumber Kebenaran, Bukan Media Sosial

Media Mainstream Masih Sumber Kebenaran, Bukan Media Sosial

Media Mainstream Masih Sumber Kebenaran, Bukan Media Sosial
Kehadiran buzzer politik di sosial media tidak terlalu memengaruhi pemilih dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Menurut peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saidiman Ahmad, posisi buzzer masih kalah dengan media mainstream.

"Menurutku media mainstream sangat berperan. Televisi, koran, radio, media mainstrem internet yang dipercaya, dibanding Twitter, Instagram," kata Saidiman saat diskusi bertajuk 'Buzzer politik di media sosial, efektifkah?' di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (12/10/2010).

Ia mengatakan, jumlah pengguna media sosial khususnya Twitter di Jakarta sebagai ibu kota negara hanya 5 persen. Sehingga tidak memberikan dampak yang terlalu besar kepada publik.

"Alat ukurnya media mainstream, kalau ada isu yang hanya di medsos tidak ada di mainstream orang kan enggak baca. Jadi media mainstream masih jadi sumber kebenaran buat kita bukan medsos," tambahnya.

Saidiman menyarankan agar calon presiden maupun tim pemenangannya harus langsung mengkarifikasi apabila menemukan info megatif dari buzzer.

"Caranya menurut saya sudah oke yah sekarang, bahkan pemain medsos kalau ada berita mereka cepat-cepat cari pembandingnya, apakah ini benar atau tidak. Salah satu sumbernya media mainstream. Mereka nyari apakah hoaks atau tidak, dan sekarang sudah muncul kesadaran itu. Dan saya kira lama-lama itu akan terus terjadi," terangnya.

Untuk isu yang sangat memengaruhi publik sendiri tambahnya, adalah isu yang berhubungan langsung dengan masyarakat seperti halnya ekonomi.

"Misalnya kenaikan BBM itu besar pengaruhnya, kalau buzzer politik yah tentu masih perdebatan yah, apakah medsos jadi sumber kebenaran publik atau tidak itu perdebatan juga," tuturnya. (Okezone).*

Media Mainstream Masih Sumber Kebenaran, Bukan Media Sosial
Kehadiran buzzer politik di sosial media tidak terlalu memengaruhi pemilih dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Menurut peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saidiman Ahmad, posisi buzzer masih kalah dengan media mainstream.

"Menurutku media mainstream sangat berperan. Televisi, koran, radio, media mainstrem internet yang dipercaya, dibanding Twitter, Instagram," kata Saidiman saat diskusi bertajuk 'Buzzer politik di media sosial, efektifkah?' di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (12/10/2010).

Ia mengatakan, jumlah pengguna media sosial khususnya Twitter di Jakarta sebagai ibu kota negara hanya 5 persen. Sehingga tidak memberikan dampak yang terlalu besar kepada publik.

"Alat ukurnya media mainstream, kalau ada isu yang hanya di medsos tidak ada di mainstream orang kan enggak baca. Jadi media mainstream masih jadi sumber kebenaran buat kita bukan medsos," tambahnya.

Saidiman menyarankan agar calon presiden maupun tim pemenangannya harus langsung mengkarifikasi apabila menemukan info megatif dari buzzer.

"Caranya menurut saya sudah oke yah sekarang, bahkan pemain medsos kalau ada berita mereka cepat-cepat cari pembandingnya, apakah ini benar atau tidak. Salah satu sumbernya media mainstream. Mereka nyari apakah hoaks atau tidak, dan sekarang sudah muncul kesadaran itu. Dan saya kira lama-lama itu akan terus terjadi," terangnya.

Untuk isu yang sangat memengaruhi publik sendiri tambahnya, adalah isu yang berhubungan langsung dengan masyarakat seperti halnya ekonomi.

"Misalnya kenaikan BBM itu besar pengaruhnya, kalau buzzer politik yah tentu masih perdebatan yah, apakah medsos jadi sumber kebenaran publik atau tidak itu perdebatan juga," tuturnya. (Okezone).*

3.500 Hoaks Beredar di Media Sosial Tiap Hari

3.500 Hoaks Beredar di Media Sosial Tiap Hari

3.500 Hoaks Beredar di Media Sosial Tiap Hari
Sebanyak 3.500 berita bohong (hoaks) beredar di media sosial setiap hari. Demikian dikemukakan Karo Multimedia Divisi Humas Polri Brigjen Pol Budi Setiawan.

"Bahkan sehari bisa ribuan karena data yang krusial 3.500, ini cukup masif," kata Budi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (22/9/2018).

Dia menilai, maraknya penyebaran berita hoaks didorong keinginan sebagian masyarakat yang ingin eksis, yakni dengan menyebarkan secepatnya. Padahal yang bersangkutan tidak mempelajari terlebih dahulu kebenaran informasi yang ia sebarkan.

Budi menyatakan, Polri tidak akan membiarkan hal tersebut terus terjadi. Kata dia, polisi akan memberikan sosialisasi kepada masyarakat.

"Itu kita sejukan, kita berikan suatu penjelasan supaya memahami, bahwa itu bukan (yang benar)," ucapnya.

Sementara itu, Direktur eksekutif Perludem, Titi Anggraini menyatakan berita fitnah atau hoaks dapat menganggu kedaulatan rakyat. Dia menyatakan kedaulatan itu dapat diwujudkan bila pemilih bisa memilih.

"Prinsip bebas memilih itu tidak bisa dilakukan apabila didasari pada berita bohong. Originalitas itu harus diikuti oleh penerimaan informasi yang benar," ucap dia.

Menurut Titi, berita hoaks sangat membahayakan. Pemilu terancam kehilangan legitimasi.

"Menurut saya tidak legitimate sebuah Pemilu kaku pemilih nya mendasari diri pada informasi yang tidak jujur," jelas Titi. (Liputan6.com).*

3.500 Hoaks Beredar di Media Sosial Tiap Hari
Sebanyak 3.500 berita bohong (hoaks) beredar di media sosial setiap hari. Demikian dikemukakan Karo Multimedia Divisi Humas Polri Brigjen Pol Budi Setiawan.

"Bahkan sehari bisa ribuan karena data yang krusial 3.500, ini cukup masif," kata Budi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (22/9/2018).

Dia menilai, maraknya penyebaran berita hoaks didorong keinginan sebagian masyarakat yang ingin eksis, yakni dengan menyebarkan secepatnya. Padahal yang bersangkutan tidak mempelajari terlebih dahulu kebenaran informasi yang ia sebarkan.

Budi menyatakan, Polri tidak akan membiarkan hal tersebut terus terjadi. Kata dia, polisi akan memberikan sosialisasi kepada masyarakat.

"Itu kita sejukan, kita berikan suatu penjelasan supaya memahami, bahwa itu bukan (yang benar)," ucapnya.

Sementara itu, Direktur eksekutif Perludem, Titi Anggraini menyatakan berita fitnah atau hoaks dapat menganggu kedaulatan rakyat. Dia menyatakan kedaulatan itu dapat diwujudkan bila pemilih bisa memilih.

"Prinsip bebas memilih itu tidak bisa dilakukan apabila didasari pada berita bohong. Originalitas itu harus diikuti oleh penerimaan informasi yang benar," ucap dia.

Menurut Titi, berita hoaks sangat membahayakan. Pemilu terancam kehilangan legitimasi.

"Menurut saya tidak legitimate sebuah Pemilu kaku pemilih nya mendasari diri pada informasi yang tidak jujur," jelas Titi. (Liputan6.com).*

Pemerintah Rencanakan Registrasi Akun Medsos Gunakan KTP

Pemerintah Rencanakan Registrasi Akun Medsos Gunakan KTP

Registrasi Akun Medsos Gunakan KTP
Pemerintah sedang mengkaji rencana penggunaan KTP untuk meregistrasi media sosial. Hal ini diungkapkan Staf Ahli Menkominfo Bidang Hukum, Henri Subiakto.

"Itu masih dikaji, tetapi arahnya seperti itu (KTP digunakan untuk meregistrasi media sosial)," kata Henri usai talkshow bertajuk 'Keamanan Data Tanggungjawab Siapa?' di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (10/3).

Henri mengatakan, jika semua akun media sosial memiliki identitas resmi berdasarkan data administrasi kependudukan, maka penyebaran hoaks bisa menurun. Semua pengguna media sosial juga nantinya harus bertanggung jawab atas kritikan yang disampaikan melalui akunnya.

"Semua harus bertanggung jawab. Begini, kita bebas berkomunikasi, berpendapat, mengkritik, tapi bawa identitas yang jelas dong," ucap dia.

"Jangan sampai media sosial jadi surat kaleng tapi digital, jangan sampai media sosial menjadi selebaran gelap tapi digital," sambungnya.

Kendati sudah mulai mengkaji rencana penggunaan KTP untuk akun media sosial, Henri belum bisa memastikan kebijakan ini bisa diterapkan. Menurutnya, butuh waktu cukup lama untuk menyesuaikan seluruh perangkat kebijakan dengan penyedia aplikasi media sosial.

"Kalau Anda tanya kapan? saya belum tau. Karena memang agak lama, harus bekerja sama dengan penyedia aplikasi. Mereka juga harus sesuai dengan peraturan kita," jelasnya.

Sebelumnya, PDI Perjuangan mengusulkan agar Nomor Induk Kependudukan (NIK) KTP digunakan untuk meregistrasi akun media sosial. Penggunaan NIK ini dinilai bisa meminimalisir ujaran kebencian dan penyebaran hoax di media sosial.

Wasekjen PDI Perjuangan Eriko Sotarduga menuturkan, jika semua media sosial teregistrasi menggunakan NIK KTP, maka pemilik akun tersebut bakal mempertimbangkan secara matang sebelum menyebarkan informasi bohong. Penggunaan NIK juga bisa menguji keberanian pemilik akun media sosial yang selama ini kerap menyebar ujaran kebencian. (merdeka.com).*

Registrasi Akun Medsos Gunakan KTP
Pemerintah sedang mengkaji rencana penggunaan KTP untuk meregistrasi media sosial. Hal ini diungkapkan Staf Ahli Menkominfo Bidang Hukum, Henri Subiakto.

"Itu masih dikaji, tetapi arahnya seperti itu (KTP digunakan untuk meregistrasi media sosial)," kata Henri usai talkshow bertajuk 'Keamanan Data Tanggungjawab Siapa?' di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (10/3).

Henri mengatakan, jika semua akun media sosial memiliki identitas resmi berdasarkan data administrasi kependudukan, maka penyebaran hoaks bisa menurun. Semua pengguna media sosial juga nantinya harus bertanggung jawab atas kritikan yang disampaikan melalui akunnya.

"Semua harus bertanggung jawab. Begini, kita bebas berkomunikasi, berpendapat, mengkritik, tapi bawa identitas yang jelas dong," ucap dia.

"Jangan sampai media sosial jadi surat kaleng tapi digital, jangan sampai media sosial menjadi selebaran gelap tapi digital," sambungnya.

Kendati sudah mulai mengkaji rencana penggunaan KTP untuk akun media sosial, Henri belum bisa memastikan kebijakan ini bisa diterapkan. Menurutnya, butuh waktu cukup lama untuk menyesuaikan seluruh perangkat kebijakan dengan penyedia aplikasi media sosial.

"Kalau Anda tanya kapan? saya belum tau. Karena memang agak lama, harus bekerja sama dengan penyedia aplikasi. Mereka juga harus sesuai dengan peraturan kita," jelasnya.

Sebelumnya, PDI Perjuangan mengusulkan agar Nomor Induk Kependudukan (NIK) KTP digunakan untuk meregistrasi akun media sosial. Penggunaan NIK ini dinilai bisa meminimalisir ujaran kebencian dan penyebaran hoax di media sosial.

Wasekjen PDI Perjuangan Eriko Sotarduga menuturkan, jika semua media sosial teregistrasi menggunakan NIK KTP, maka pemilik akun tersebut bakal mempertimbangkan secara matang sebelum menyebarkan informasi bohong. Penggunaan NIK juga bisa menguji keberanian pemilik akun media sosial yang selama ini kerap menyebar ujaran kebencian. (merdeka.com).*

Polwan Cantik Bripda Ismi Aisyah Curi Perhatian di Lokasi Ledakan Bom di Bandung

Polwan Cantik Bripda Ismi Aisyah Curi Perhatian di Lokasi Ledakan Bom di Bandung

Polwan Cantik Bripda Ismi Aisyah Curi Perhatian di Lokasi Ledakan Bom di Bandung
Bandung -- Seorang polwan yang bertugas di lokasi ledakan bom di Kelurahan Arjuna, Cicendo Bandung, tiba-tiba menjadi viral di sosial media.

Namanya, Bripda Ismi Aisyah. Polwan cantik ini tertangkap kamera saat berada di lokasi ledakan.

Dengan cepat foto-foto Bripda Ismi tersebar dan di share banyak orang. Terlihat dalam foto, Ismi tengah berjalan sembari membawa kamera. 

Pasca ledakan di Bandung, yang viral malah foto-foto Bripda Ismi Aisyah yang bertugas di lapangan.

Selain foto menenteng kamera, terdapat juga polwan cantik itu saat memainkan handphone. 

Polwan cantik ini juga terlihat di samping Kapolda Jawa Barat, Irjen Anton Charliyan ketika beliau turun langsung ke lokasi peledakan bom terjadi di Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo.

Pelaku bom telah dibekuk polisi. Pelaku sempat melarikan diri dan bersembunyi di kantor kelurahan Arjuna. Situasi saat ini di lokasi sudah aman. Hal tersebut juga ditegaskan oleh Kapolda Jabar Irjen Anton Charliyan.

"Situasi di kelurahan Arjuna, Cicendo sudah aman terkendali. Pelaku sudah dilumpuhkan oleh , kondisi pegawai kelurahan juga sehat dan selamat,” kata Kapolda. (Sumber)

Berikut ini Foto Lain Bripda Ismi Aisyah yang beredar di media sosial:

Bripda Ismi Aisyah


Bripda Ismi Aisyah
Bripda Ismi Aisyah

Bripda Ismi Aisyah
Bripda Ismi Aisyah

Bripda Ismi Aisyah
Bripda Ismi Aisyah

Polwan Cantik Bripda Ismi Aisyah Curi Perhatian di Lokasi Ledakan Bom di Bandung
Bandung -- Seorang polwan yang bertugas di lokasi ledakan bom di Kelurahan Arjuna, Cicendo Bandung, tiba-tiba menjadi viral di sosial media.

Namanya, Bripda Ismi Aisyah. Polwan cantik ini tertangkap kamera saat berada di lokasi ledakan.

Dengan cepat foto-foto Bripda Ismi tersebar dan di share banyak orang. Terlihat dalam foto, Ismi tengah berjalan sembari membawa kamera. 

Pasca ledakan di Bandung, yang viral malah foto-foto Bripda Ismi Aisyah yang bertugas di lapangan.

Selain foto menenteng kamera, terdapat juga polwan cantik itu saat memainkan handphone. 

Polwan cantik ini juga terlihat di samping Kapolda Jawa Barat, Irjen Anton Charliyan ketika beliau turun langsung ke lokasi peledakan bom terjadi di Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo.

Pelaku bom telah dibekuk polisi. Pelaku sempat melarikan diri dan bersembunyi di kantor kelurahan Arjuna. Situasi saat ini di lokasi sudah aman. Hal tersebut juga ditegaskan oleh Kapolda Jabar Irjen Anton Charliyan.

"Situasi di kelurahan Arjuna, Cicendo sudah aman terkendali. Pelaku sudah dilumpuhkan oleh , kondisi pegawai kelurahan juga sehat dan selamat,” kata Kapolda. (Sumber)

Berikut ini Foto Lain Bripda Ismi Aisyah yang beredar di media sosial:

Bripda Ismi Aisyah


Bripda Ismi Aisyah
Bripda Ismi Aisyah

Bripda Ismi Aisyah
Bripda Ismi Aisyah

Bripda Ismi Aisyah
Bripda Ismi Aisyah

Akun Anonim Media Sosial Bisa Dilacak Polisi

Akun Anonim Media Sosial Bisa Dilacak Polisi

Akun Anonim Media Sosial Bisa Dilacak Polisi
POLISI menyatakan bisa melacak akun anonim, nama samaran, ataupun akun palsu di media sosial. Akun media sosal abal-abal itu biasanya menyebarkan fitnah dan ujaran kebencian yang menyerang seseorang.

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Mohammad Fadil Imran mengatakan, akun anonim bisa dengan mudah dilacak. Namun, perlu waktu untuk menemukan siapa orang yang mengelola dan menjalankan akun tersebut.

"Bisa, tetap bisa dilacak. Cuma butuh teknologi dan waktu," kata Fadil, Senin (27/2/2017), dikutip Liputan6.

Dijelaskan, akun anonim ini kerap menyebarkan fitnah dan ujaran kebencian (hate speech). Hanya saja, Fadil mengaku pihaknya tak bisa langsung bergerak menindak akun tersebut tanpa adanya laporan dari pihak yang merasa dirugikan.

"Tapi kalau sudah viral kita melakukan profiling atau penyelidikan," ucap Fadil.*

Akun Anonim Media Sosial Bisa Dilacak Polisi
POLISI menyatakan bisa melacak akun anonim, nama samaran, ataupun akun palsu di media sosial. Akun media sosal abal-abal itu biasanya menyebarkan fitnah dan ujaran kebencian yang menyerang seseorang.

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Mohammad Fadil Imran mengatakan, akun anonim bisa dengan mudah dilacak. Namun, perlu waktu untuk menemukan siapa orang yang mengelola dan menjalankan akun tersebut.

"Bisa, tetap bisa dilacak. Cuma butuh teknologi dan waktu," kata Fadil, Senin (27/2/2017), dikutip Liputan6.

Dijelaskan, akun anonim ini kerap menyebarkan fitnah dan ujaran kebencian (hate speech). Hanya saja, Fadil mengaku pihaknya tak bisa langsung bergerak menindak akun tersebut tanpa adanya laporan dari pihak yang merasa dirugikan.

"Tapi kalau sudah viral kita melakukan profiling atau penyelidikan," ucap Fadil.*

Media Sosial Sumber Utama Penyebaran Hoax

Media Sosial Sumber Utama Penyebaran Hoax

Media Sosial Sumber Utama Penyebaran Hoax
MEDIA SOSIAL merupakan sumber utama penyebaran berita bohong (hoax). Demikian hasil survei Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) yang dirilis Senin (13/2/2017).

Hasil survei secara online yang melibatkan 1,116 responden itu menunjukkan, sebanyak 92,40 persen hoax ditemui di media sosial.

Sebanyak 62,8 persen responden mengaku sering menerima hoax dari aplikasi pesan singkat, seperti Line, WhatsApp (WA), atau Telegram.

Saluran penyebaran hoax lainnya adalah situs web 34,9 persen, televisi 8,7 persen, media cetak 5 persen, email 3,1 persen dan radio 1,2 persen. 

Sebanyak 91,8 persen responden mengatakan, berita mengenai sosial-politik adalah jenis hoax yang paling sering ditemui dengan persentase di media sosial sebanyak 92,40 persen.

"Hoax sengaja dibuat untuk memengaruhi opini publik dan kian marak lantaran faktor stimulasi seperti Sosial Politik dan SARA. Hoax ini juga muncul karena biasanya masyarakat menyukai sesuatu yang heboh," ujar Ketua Umum Mastel, Kristiono, dikutip Tekno Liputan6.

Kristiono menilai, responden sudah cukup kritis karena mereka telah terbiasa memeriksa kebenaran berita. "Ini artinya sudah bagus. Tinggal bagaimana mencegah kelompok silent majority berpindah menjadi haters," tuturnya.*

Media Sosial Sumber Utama Penyebaran Hoax
MEDIA SOSIAL merupakan sumber utama penyebaran berita bohong (hoax). Demikian hasil survei Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) yang dirilis Senin (13/2/2017).

Hasil survei secara online yang melibatkan 1,116 responden itu menunjukkan, sebanyak 92,40 persen hoax ditemui di media sosial.

Sebanyak 62,8 persen responden mengaku sering menerima hoax dari aplikasi pesan singkat, seperti Line, WhatsApp (WA), atau Telegram.

Saluran penyebaran hoax lainnya adalah situs web 34,9 persen, televisi 8,7 persen, media cetak 5 persen, email 3,1 persen dan radio 1,2 persen. 

Sebanyak 91,8 persen responden mengatakan, berita mengenai sosial-politik adalah jenis hoax yang paling sering ditemui dengan persentase di media sosial sebanyak 92,40 persen.

"Hoax sengaja dibuat untuk memengaruhi opini publik dan kian marak lantaran faktor stimulasi seperti Sosial Politik dan SARA. Hoax ini juga muncul karena biasanya masyarakat menyukai sesuatu yang heboh," ujar Ketua Umum Mastel, Kristiono, dikutip Tekno Liputan6.

Kristiono menilai, responden sudah cukup kritis karena mereka telah terbiasa memeriksa kebenaran berita. "Ini artinya sudah bagus. Tinggal bagaimana mencegah kelompok silent majority berpindah menjadi haters," tuturnya.*

Dibanjiri Informasi, Masyarakat Sedang Gagap Media

Dibanjiri Informasi, Masyarakat Sedang Gagap Media

Dibanjiri Informasi, Masyarakat Sedang Gagap Media
Sebagai bangsa yang dibesarkan dengan budaya lisan, bukan budaya membaca, masyarakat Indonesia sedang gagap media ketika teknologi berupa gadget makin terjangkau dan melaluinya informasi datang membanjiri, termasuk berita-berita yang simpang siur dan hoax.

Demikian dikemukakan sosiolog dari Universitas Nasional Jakarta, Sigit Rochadi, Rabu (8/2/2017).

"Mereka mengalami kejutan budaya (cultural shock) seperti mengalami lompatan jauh dibanding kebutuhan. Informasi yang diterima berkali lipat lebih banyak dari yang dibutuhkan," katanya dikutip Berita Satu.

Dikemukakan, berbagai informasi termasuk hoax banyak diterima melalui media sosial (medsos). Medsos mempunyai ciri, tidak dikenal (anonimity), tak dilihat (invisibility), sering tidak sinkron dengan topik utama (acyncrhonicity), hanya permainan (disociative imagination), dan tidak ada yang punya otoritas lebih (minimizing authority).

Dengan ciri-ciri tadi maka pengguna medsos tidak mementingkan kebenaran, tetapi sensasi, kesenangan, kepuasan yang sifatnya sesaat.

"Karenanya, via medsos orang sesukanya menyampaikan apa saja yang ada di pikiran dan perasaannya masing-masing," tegasnya.

"Baru pada saat sekarang orang bisa menyampaikan apa saja secara bebas. Semua perasaan yang selama ini dipendam oleh generasi terdahulu, dapat dinyatakan secara terbuka tanpa beban," katanya.

Apa yang terpendam atau yang dahulu tabu itu antara lain terkait agama, suku atau ekonomi politik. “Maka begitu tersedia sarana langsung meledak,” katanya.

Menurut Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Ricardi S Adnan, saat ini masyarakat Indonesia sedang gegar budaya dengan adanya medsos. 

"Pemimpin harus memberikan contoh yang baik dan bukannya memanas-manasi situasi. Sebab saat ini medsos dipenuhi dengan isu-isu politik," katanya.

Ia menilai, media arus utama terlalu kaku dengan format yang dinilainya sudah kuno. Berita dari media arus utama cenderung telat sampainya dibandingkan medsos. Namun saat ini, tidak akan ditinggalkan sepenuhnya.*

Dibanjiri Informasi, Masyarakat Sedang Gagap Media
Sebagai bangsa yang dibesarkan dengan budaya lisan, bukan budaya membaca, masyarakat Indonesia sedang gagap media ketika teknologi berupa gadget makin terjangkau dan melaluinya informasi datang membanjiri, termasuk berita-berita yang simpang siur dan hoax.

Demikian dikemukakan sosiolog dari Universitas Nasional Jakarta, Sigit Rochadi, Rabu (8/2/2017).

"Mereka mengalami kejutan budaya (cultural shock) seperti mengalami lompatan jauh dibanding kebutuhan. Informasi yang diterima berkali lipat lebih banyak dari yang dibutuhkan," katanya dikutip Berita Satu.

Dikemukakan, berbagai informasi termasuk hoax banyak diterima melalui media sosial (medsos). Medsos mempunyai ciri, tidak dikenal (anonimity), tak dilihat (invisibility), sering tidak sinkron dengan topik utama (acyncrhonicity), hanya permainan (disociative imagination), dan tidak ada yang punya otoritas lebih (minimizing authority).

Dengan ciri-ciri tadi maka pengguna medsos tidak mementingkan kebenaran, tetapi sensasi, kesenangan, kepuasan yang sifatnya sesaat.

"Karenanya, via medsos orang sesukanya menyampaikan apa saja yang ada di pikiran dan perasaannya masing-masing," tegasnya.

"Baru pada saat sekarang orang bisa menyampaikan apa saja secara bebas. Semua perasaan yang selama ini dipendam oleh generasi terdahulu, dapat dinyatakan secara terbuka tanpa beban," katanya.

Apa yang terpendam atau yang dahulu tabu itu antara lain terkait agama, suku atau ekonomi politik. “Maka begitu tersedia sarana langsung meledak,” katanya.

Menurut Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Ricardi S Adnan, saat ini masyarakat Indonesia sedang gegar budaya dengan adanya medsos. 

"Pemimpin harus memberikan contoh yang baik dan bukannya memanas-manasi situasi. Sebab saat ini medsos dipenuhi dengan isu-isu politik," katanya.

Ia menilai, media arus utama terlalu kaku dengan format yang dinilainya sudah kuno. Berita dari media arus utama cenderung telat sampainya dibandingkan medsos. Namun saat ini, tidak akan ditinggalkan sepenuhnya.*

Media Sosial Mengancam Profesionalisme Wartawan

Media Sosial Mengancam Profesionalisme Wartawan

Media Sosial Mengancam Profesionalisme Wartawan
MEDIA Sosial merupakan ancaman baru profesionalisme wartawan. Kehadiran dan perkembangan medsos membuat wartawan malas menemui langsung narasumber guna mendapatkan informasi akuat.

Demikian dikemukakan Direktur Riset dan Komunikasi Publik Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Agus Sudibyo, dalam pelatihan Peningkatan Profesionalisme Wartawan di Hotel The Natsepa, Ambon, Minggu (5/2/17).

Menurutnya, saat ini media sosial dapat mengubah cara kerja wartawan sehingga profesionalisme wartawan dengan sendirinya bisa hilang.

"Saat ini kehadiran media sosial, membuat wartawan dinina bobokkan. Wartawan lebih mudah untuk konfirmasi berita ke narasumber. Padahal, biar lebih aktual upayakan temui narasumber, ” jelasnya dikutip Fajar.

Agus menerangkan, lebih mudahnya mengakses medsos, bisa berdampak positif dan negatif kepada semua orang. Khusus negatifnya, banyak orang-orang yang menjadikan medsos itu sebagai wadah menyebar luaskan unformasi bersifat mencemarkan nama dan SARA.

"Begitupula dengan wartawan. Mereka harus berhati-hati menyebar luaskan berita melalui medsos. Jangan sampai melanggar undang- undang ITE”, harapnya.

Agus juga menuturkan, politik saat ini semakin terpuruk. Karena saat ini banyak pemilik media yang terjung berpolitik. Hal itu bukan hanya terjadi di Jakarta, melainkan di kota-kota lainnya di Indonesia.

“Di daerah lain juga demikian. Ini bukan hanya menjadi permasalahan pada pemilik media. Namun juga pada wartawannya. Bisa saja wartawan di media menjadi tim sukses, baik secara langsung maupun sembunyi-sembunyi, ” tuturnya.*

Media Sosial Mengancam Profesionalisme Wartawan
MEDIA Sosial merupakan ancaman baru profesionalisme wartawan. Kehadiran dan perkembangan medsos membuat wartawan malas menemui langsung narasumber guna mendapatkan informasi akuat.

Demikian dikemukakan Direktur Riset dan Komunikasi Publik Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Agus Sudibyo, dalam pelatihan Peningkatan Profesionalisme Wartawan di Hotel The Natsepa, Ambon, Minggu (5/2/17).

Menurutnya, saat ini media sosial dapat mengubah cara kerja wartawan sehingga profesionalisme wartawan dengan sendirinya bisa hilang.

"Saat ini kehadiran media sosial, membuat wartawan dinina bobokkan. Wartawan lebih mudah untuk konfirmasi berita ke narasumber. Padahal, biar lebih aktual upayakan temui narasumber, ” jelasnya dikutip Fajar.

Agus menerangkan, lebih mudahnya mengakses medsos, bisa berdampak positif dan negatif kepada semua orang. Khusus negatifnya, banyak orang-orang yang menjadikan medsos itu sebagai wadah menyebar luaskan unformasi bersifat mencemarkan nama dan SARA.

"Begitupula dengan wartawan. Mereka harus berhati-hati menyebar luaskan berita melalui medsos. Jangan sampai melanggar undang- undang ITE”, harapnya.

Agus juga menuturkan, politik saat ini semakin terpuruk. Karena saat ini banyak pemilik media yang terjung berpolitik. Hal itu bukan hanya terjadi di Jakarta, melainkan di kota-kota lainnya di Indonesia.

“Di daerah lain juga demikian. Ini bukan hanya menjadi permasalahan pada pemilik media. Namun juga pada wartawannya. Bisa saja wartawan di media menjadi tim sukses, baik secara langsung maupun sembunyi-sembunyi, ” tuturnya.*

Hoax Melimpah Akibat Literasi Media Masyarakat Rendah

Hoax Melimpah Akibat Literasi Media Masyarakat Rendah

Hoax Melimpah Akibat Literasi Media Masyarakat Rendah
HOAX atau berita palsu (fake news) berkembang pesat belakangan ini salah satu faktornya adalah akibat rendahnya literasi media masyarakat. Peredaran hoax atau berita bohong akan berhenti jika publik cerdas dalam menyaring berita atau informasi.

Demikian dikemukakan pengamat media sosial dan teknologi informasi Nukman Luthfie di Jakarta, Jumat (27/1/2017).

"Kuncinya adalah literasi dan kecerdasan masyarakat dalam menyaring berita atau informasi. Selama ini masyarakat kita tidak biasa kritis dan kesannya gampang menelan konten apa pun di media dan medsos, termasuk konten yang tidak berdasar," ujarnya dikutip Antara.

Menurut Nukman, rendahnya literasi media masyarakat dipengaruhi banyak faktor, di antaranya kecenderungan hanya membaca judul tanpa melihat, apalagi memahami isi berita. Dalam statistik sebuah lembaga, hampir 40% konten atau link berita di medsos tidak pernah dibuka.

Padahal, sebagian besar konten hoax itu judulnya pasti bombastis, sedangkan isinya tidak ada apa-apanya. Fakta inilah yang menjadi salah satu cikal bakal hoax.

"Yang membahayakan itu ketika judul-judul yang tidak benar itu terus menyebar dan orang yang menerima setuju terus menyebarkan lagi. Bisa dibayangkan betapa besar dampak hoax tersebut," ucap Nukman.

Nukman menyarankan kepada siapa pun yang menggunakan medsos untuk lebih cerdas dan arif ketika menerima informasi atau berita.

"Baca lebih dulu isi berita sebelum menyebarkan. Selain itu, juga harus cek ricek tentang sumber berita tersebut," ujarnya.

Ia menegaskan, sikap hati-hati diperlukan dalam menyikapi berita dan informasi di media sosial karena ada pihak yang sengaja menyebarkan hoax untuk kepentingan tertentu, termasuk kepentingan politik menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak. (Bisnis).*
Hoax Melimpah Akibat Literasi Media Masyarakat Rendah
HOAX atau berita palsu (fake news) berkembang pesat belakangan ini salah satu faktornya adalah akibat rendahnya literasi media masyarakat. Peredaran hoax atau berita bohong akan berhenti jika publik cerdas dalam menyaring berita atau informasi.

Demikian dikemukakan pengamat media sosial dan teknologi informasi Nukman Luthfie di Jakarta, Jumat (27/1/2017).

"Kuncinya adalah literasi dan kecerdasan masyarakat dalam menyaring berita atau informasi. Selama ini masyarakat kita tidak biasa kritis dan kesannya gampang menelan konten apa pun di media dan medsos, termasuk konten yang tidak berdasar," ujarnya dikutip Antara.

Menurut Nukman, rendahnya literasi media masyarakat dipengaruhi banyak faktor, di antaranya kecenderungan hanya membaca judul tanpa melihat, apalagi memahami isi berita. Dalam statistik sebuah lembaga, hampir 40% konten atau link berita di medsos tidak pernah dibuka.

Padahal, sebagian besar konten hoax itu judulnya pasti bombastis, sedangkan isinya tidak ada apa-apanya. Fakta inilah yang menjadi salah satu cikal bakal hoax.

"Yang membahayakan itu ketika judul-judul yang tidak benar itu terus menyebar dan orang yang menerima setuju terus menyebarkan lagi. Bisa dibayangkan betapa besar dampak hoax tersebut," ucap Nukman.

Nukman menyarankan kepada siapa pun yang menggunakan medsos untuk lebih cerdas dan arif ketika menerima informasi atau berita.

"Baca lebih dulu isi berita sebelum menyebarkan. Selain itu, juga harus cek ricek tentang sumber berita tersebut," ujarnya.

Ia menegaskan, sikap hati-hati diperlukan dalam menyikapi berita dan informasi di media sosial karena ada pihak yang sengaja menyebarkan hoax untuk kepentingan tertentu, termasuk kepentingan politik menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak. (Bisnis).*

Cara Kerja Pembuat dan Penyebaran Hoax di Media Sosial

Cara Kerja Pembuat dan Penyebaran Hoax di Media Sosial

HOAX atau berita bohong menjadi hot issue di Indonesia. Pemerintah sudah memblokir ribuan situs yang dianggap penyebar hoax.

Hoax muncul akibat ketidakjelasan sebuah informasi, terutama menyangkut kebijakan pemerintah. Isu hoax mengemuka sejak munculnya informasi serbuan 10 juta tenaga asing asal China ke Indonesia.

Perang opini di media sosial juga menyuburkan hoax. Diyakini ada pasukan siber bayaran yang bertugas membuat dan menyebarkan hoax guna menggiring atau membentuk opini publik.

Bagaimana cara kerja pembuat dan penyebaran hoax? Infografis yang beredar di media sosial berikut ini menjelaskannya:

Cara Kerja Pembuat dan Penyebaran Hoax di Media Sosial

HOAX atau berita bohong menjadi hot issue di Indonesia. Pemerintah sudah memblokir ribuan situs yang dianggap penyebar hoax.

Hoax muncul akibat ketidakjelasan sebuah informasi, terutama menyangkut kebijakan pemerintah. Isu hoax mengemuka sejak munculnya informasi serbuan 10 juta tenaga asing asal China ke Indonesia.

Perang opini di media sosial juga menyuburkan hoax. Diyakini ada pasukan siber bayaran yang bertugas membuat dan menyebarkan hoax guna menggiring atau membentuk opini publik.

Bagaimana cara kerja pembuat dan penyebaran hoax? Infografis yang beredar di media sosial berikut ini menjelaskannya:

Cara Kerja Pembuat dan Penyebaran Hoax di Media Sosial

Tips Hemat Kuota Data Internet Saat Tonton Video di HP

Tips Hemat Kuota Data Internet Saat Tonton Video di HP

Tips Hemat Kuota Data Internet Saat Tonton Video di HP
Tips Hemat Kuota Data Internet Saat Tonton Video di HP, SmartPhone, Android

PEMUTARAN video mengonsumsi data internet paling besar dibandingkan konten lain seperti teks dan foto.

Apalagi jika setting layanan media sosial, semacam Facebook, Instagram, dan Twitter, memutar video secara otomatis (autoplay).

Guna menghemat kuota internet Anda, penyetelan menjadi tidak otomatis diputar (off) wajib dilakukan. 

Facebook, Instagram, dan Twitter punya pengaturan berbeda-beda untuk menyetop autoplay.

Video Facebook
Untuk pengguna iPhone, cara menyetop autoplay cukup dengan menekan ikon menu burger (tiga garis menumpuk) pada sisi kanan bawah antarmuka aplikasi Facebook.

Pilih "Settings" lalu "Account Settings". Gulir layar ke bawah hingga Anda menemukan pilihan "Videos and Photos". Temukan opsi "Autoplay" dan klik "Never Autoplay Videos".

Opera Max – Data ManagerAnda juga bisa gunakan Opera Max – Data manager untuk menghemat kuota saat menonton video:
  1. Download Aplikasi Opera Max – Data manager di Play Store 
  2. Install dan jalankan aplikasi Opera Max – Data manager
  3. Saat Anda masuk ke halaman awal aplikasi Opera Max – Data manager, maka fitur hemat paket data akan aktif secara otomatis
Dengan aplikasi Opera Max, maka kuota paket data akan lebih hemat hingga 50 persen dibandingkan streaming melalui aplikasi Youtube atau browser biasa.*

Tips Hemat Kuota Data Internet Saat Tonton Video di HP
Tips Hemat Kuota Data Internet Saat Tonton Video di HP, SmartPhone, Android

PEMUTARAN video mengonsumsi data internet paling besar dibandingkan konten lain seperti teks dan foto.

Apalagi jika setting layanan media sosial, semacam Facebook, Instagram, dan Twitter, memutar video secara otomatis (autoplay).

Guna menghemat kuota internet Anda, penyetelan menjadi tidak otomatis diputar (off) wajib dilakukan. 

Facebook, Instagram, dan Twitter punya pengaturan berbeda-beda untuk menyetop autoplay.

Video Facebook
Untuk pengguna iPhone, cara menyetop autoplay cukup dengan menekan ikon menu burger (tiga garis menumpuk) pada sisi kanan bawah antarmuka aplikasi Facebook.

Pilih "Settings" lalu "Account Settings". Gulir layar ke bawah hingga Anda menemukan pilihan "Videos and Photos". Temukan opsi "Autoplay" dan klik "Never Autoplay Videos".

Opera Max – Data ManagerAnda juga bisa gunakan Opera Max – Data manager untuk menghemat kuota saat menonton video:
  1. Download Aplikasi Opera Max – Data manager di Play Store 
  2. Install dan jalankan aplikasi Opera Max – Data manager
  3. Saat Anda masuk ke halaman awal aplikasi Opera Max – Data manager, maka fitur hemat paket data akan aktif secara otomatis
Dengan aplikasi Opera Max, maka kuota paket data akan lebih hemat hingga 50 persen dibandingkan streaming melalui aplikasi Youtube atau browser biasa.*

Pemerintah Panik, Pembuat Hoax Terbaik Justru Penguasa

Pemerintah Panik, Pembuat Hoax Terbaik Justru Penguasa

Hoax Bikin Pemerintah Panik, Pembuat Hoax Terbaik Justru Penguasa
PEMERINTAH dinilai panik akibat menggejalanya informasi palsu atau berita bohong (hoax). Namun, justru sebenarnya penguasalah yang merupakan pembuat hoax terbaik.

Demikian dikemukakan dosen di Departemen Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI), Rocky Gerung, dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC) bertema Hoax di TVOne, Selasa (17/1/2017).

"Kita mencium ada semacam kepanikan di dalam rezim ini. Orang panik biasanya ingin cari pegangan apa saja. Kayak orang hanyut, dia mau raih apa saja. Entah itu kaleng bekas hanyut, batang pohon. Jadi kepanikan menunjukkan ada krisis, sebenarnya,” katanya.

Menurut Rocky, rezim saat ini semacam ingin mengendalikan kebenaran sesuai dengan standarnya. Dia pun mencurigai ada kebohongan yang disembunyikan dalam upaya keras pemerintah melawan hoax. 

“Rezim itu, kalau dia terus menerus mengendalikan kebenaran, artinya ada kebohongan yang hendak disembunyikan,” kata Rocky.

Ia menilai, pembuat berita bohong terbaik adalah pemerintah yang sedang berkuasa. "Pembuat hoax terbaik adalah penguasa," katanya. 

Alasannya, penguasa memiliki seluruh peralatan untuk berbohong. Intelijen, kata dia, pemerintah punya, begitupun data statistik dan media. "Tapi itu faktanya. Hanya pemerintah yang mampu berbohong secara sempurna,” kata Rocky dikutip Republika Online.

Pernyataan Rocky secara lebih lengkap beredar di media sosial, termasuk Facebook dan Youtube. Berikut ini transkrip atau kutipan penrnyataan selengkapnya yang menjadi viral di media sosial Facebook.

1. Rezim ini sedang panik

“Kita mencium ada semacam kepanikan di dalam rezim ini. Orang panik biasanya ingin cari pegangan apa saja. Kayak orang hanyut, dia mau raih apa saja. Entah itu kaleng bekas hanyut, batang pohon. Jadi kepanikan menunjukkan ada krisis, sebenarnya.”

2. Presiden menyebar hoax

“Sore tadi saya baca, Pak Jokowi bilang, ‘Jangan membaca Jokowi Undercover karena buku itu tidak ilmiah’. Saya anggap itu hoax,” kata Rocky disambut tawa sebagian peserta ILC.

“Karena yang ngomong itu adalah presiden, memberi penilaian pada buku tidak ilmiah. Tentu kita bisa bikin secaman simulasi dari mana Pak Jokowi tahu. O, pasti kalau ada wartawan tanya dia akan bilang, ‘kata Pak Tito. Kapolri’ Lho, Pak Tito rektor UI atau rektor ITB itu?,” kembali peserta ILC tertawa.

“Jadi Anda lihat bahwa, bahkan presiden menyebar hoax itu. Dari sudut pandang definisi lho,” tegas Rocky disambut tepuk tangan.

Menurutnya, yang berhak menentukan suatu buku ilmiah atau tidak adalah kampus. Sementara buku tersebut justru dilarang dibahas di kampus untuk mengetahui ilmiah atau tidaknya.

3. Rezim yang mengendalikan kebenaran artinya ada kebohongan yang disembunyikan

“Rezim itu, kalau dia terus menerus mengendalikan kebenaran, artinya ada kebohongan yang hendak disembunyikan,” kata Rocky setelah membahas Presiden menyebar hoax.

4. Pembuat hoax terbaik adalah penguasa

“Pembuat hoax terbaik adalah penguasa. Karena mereka memiliki seluruh peralatan untuk berbohong. Intelijen dia punya, data statistik dia punya, media dia punya. Orang marah. Tapi itu faktanya. Hanya pemerintah yang mampu berbohong secara sempurna. Saya tidak ingin dia berbohong tapi potentially dia bisa lakukan itu,” kembali tepuk tangan meriah mengiringi pernyataan Rocky.

5. Contoh Hoax Ahok

“Saya kasih contoh cepat-cepat bagaimana statistik berbohong. Kemarin di dalam debat Pilgub DKI, Pak Ahok bilang begini, saya baca tadi di media, ‘Jakarta human development index-nya tertinggi se-Indonesia. 2 tahun berturut-turut.’ Oleh karena itu dia dapat award empat kali. Sebagai fakta benar, tetapi sebagai pesan politik, itu adalah hoax. Karena nggak ada gunanya menyebut itu karena sejak 10 tahun lalu, 15 tahun lalu, Jakarta selalu di atas memang. Karena ibukota. Dengan APBN (APBD, red) 27 triliun,” kata Rocky juga disambut tepuk tangan.

Baca Juga: Situs Diduga Penyebar Hoax Harus Diuji Publik Sebelum Diblokir

Hoax Bikin Pemerintah Panik, Pembuat Hoax Terbaik Justru Penguasa
PEMERINTAH dinilai panik akibat menggejalanya informasi palsu atau berita bohong (hoax). Namun, justru sebenarnya penguasalah yang merupakan pembuat hoax terbaik.

Demikian dikemukakan dosen di Departemen Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI), Rocky Gerung, dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC) bertema Hoax di TVOne, Selasa (17/1/2017).

"Kita mencium ada semacam kepanikan di dalam rezim ini. Orang panik biasanya ingin cari pegangan apa saja. Kayak orang hanyut, dia mau raih apa saja. Entah itu kaleng bekas hanyut, batang pohon. Jadi kepanikan menunjukkan ada krisis, sebenarnya,” katanya.

Menurut Rocky, rezim saat ini semacam ingin mengendalikan kebenaran sesuai dengan standarnya. Dia pun mencurigai ada kebohongan yang disembunyikan dalam upaya keras pemerintah melawan hoax. 

“Rezim itu, kalau dia terus menerus mengendalikan kebenaran, artinya ada kebohongan yang hendak disembunyikan,” kata Rocky.

Ia menilai, pembuat berita bohong terbaik adalah pemerintah yang sedang berkuasa. "Pembuat hoax terbaik adalah penguasa," katanya. 

Alasannya, penguasa memiliki seluruh peralatan untuk berbohong. Intelijen, kata dia, pemerintah punya, begitupun data statistik dan media. "Tapi itu faktanya. Hanya pemerintah yang mampu berbohong secara sempurna,” kata Rocky dikutip Republika Online.

Pernyataan Rocky secara lebih lengkap beredar di media sosial, termasuk Facebook dan Youtube. Berikut ini transkrip atau kutipan penrnyataan selengkapnya yang menjadi viral di media sosial Facebook.

1. Rezim ini sedang panik

“Kita mencium ada semacam kepanikan di dalam rezim ini. Orang panik biasanya ingin cari pegangan apa saja. Kayak orang hanyut, dia mau raih apa saja. Entah itu kaleng bekas hanyut, batang pohon. Jadi kepanikan menunjukkan ada krisis, sebenarnya.”

2. Presiden menyebar hoax

“Sore tadi saya baca, Pak Jokowi bilang, ‘Jangan membaca Jokowi Undercover karena buku itu tidak ilmiah’. Saya anggap itu hoax,” kata Rocky disambut tawa sebagian peserta ILC.

“Karena yang ngomong itu adalah presiden, memberi penilaian pada buku tidak ilmiah. Tentu kita bisa bikin secaman simulasi dari mana Pak Jokowi tahu. O, pasti kalau ada wartawan tanya dia akan bilang, ‘kata Pak Tito. Kapolri’ Lho, Pak Tito rektor UI atau rektor ITB itu?,” kembali peserta ILC tertawa.

“Jadi Anda lihat bahwa, bahkan presiden menyebar hoax itu. Dari sudut pandang definisi lho,” tegas Rocky disambut tepuk tangan.

Menurutnya, yang berhak menentukan suatu buku ilmiah atau tidak adalah kampus. Sementara buku tersebut justru dilarang dibahas di kampus untuk mengetahui ilmiah atau tidaknya.

3. Rezim yang mengendalikan kebenaran artinya ada kebohongan yang disembunyikan

“Rezim itu, kalau dia terus menerus mengendalikan kebenaran, artinya ada kebohongan yang hendak disembunyikan,” kata Rocky setelah membahas Presiden menyebar hoax.

4. Pembuat hoax terbaik adalah penguasa

“Pembuat hoax terbaik adalah penguasa. Karena mereka memiliki seluruh peralatan untuk berbohong. Intelijen dia punya, data statistik dia punya, media dia punya. Orang marah. Tapi itu faktanya. Hanya pemerintah yang mampu berbohong secara sempurna. Saya tidak ingin dia berbohong tapi potentially dia bisa lakukan itu,” kembali tepuk tangan meriah mengiringi pernyataan Rocky.

5. Contoh Hoax Ahok

“Saya kasih contoh cepat-cepat bagaimana statistik berbohong. Kemarin di dalam debat Pilgub DKI, Pak Ahok bilang begini, saya baca tadi di media, ‘Jakarta human development index-nya tertinggi se-Indonesia. 2 tahun berturut-turut.’ Oleh karena itu dia dapat award empat kali. Sebagai fakta benar, tetapi sebagai pesan politik, itu adalah hoax. Karena nggak ada gunanya menyebut itu karena sejak 10 tahun lalu, 15 tahun lalu, Jakarta selalu di atas memang. Karena ibukota. Dengan APBN (APBD, red) 27 triliun,” kata Rocky juga disambut tepuk tangan.

Baca Juga: Situs Diduga Penyebar Hoax Harus Diuji Publik Sebelum Diblokir

Badan Cyber Nasional Pantau 'Chatting' dan Media Sosial

Badan Cyber Nasional Pantau 'Chatting' dan Media Sosial

Badan Cyber Nasional Pantau 'Chatting' dan Media Sosial
PEMERINTAH segera membentuk Badan Cyber Nasional (BCN). Badan "intelijen" ini antara lain bertugas memantau aktivitas bincang-bincang (chatting) di media sosial, khususnya yang terkait dengan radikalisme dan berita palsu (hoax).

Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, rencana pembentukan BCN ini paling lambat direalisasikan dalam satu bulan ke depan. 

Disebutkan, ada beberapa konten yang akan menjadi fokus pengamanan lembaga tersebut, antara lain adalah media sosial dan media privat, macam aktivitas bincang-bincang.

”Yang kami fokuskan itu untuk pengamanan yang media sosial. Media sosial ini rawan diakses semua orang. Kalau yang privat kita hanya pantau, kan tidak mau juga orang merasa dikejar hal-hal pribadinya," kata Rudiantara, Selasa (3/1/2017), dikutip CNN Indonesia.

Menkopolhukam Wiranto menyebutkan tingginya pengguna Internet saat ini ternyata telah meningkatkan penyebaran isu-isu radikalisme yang mengarah pada fitnah dan pelecehan.

Pemerintah merencanakan pembentukan BCN sejak dua tahun lalu, namun batal dibentuk demi penghematan anggaran. Sebagai gantinya, tugas lembaga ini dialihkan ke lembaga yang sudah ada, yakni Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg).

Wacana pembentukan BCN kembali mencuat setelah maraknya hoax di media sosial, terutama dipicu oleh rumor pekerja China yang menyerbu Indonesia, yang membuat gerah pemerintah.*

Badan Cyber Nasional Pantau 'Chatting' dan Media Sosial
PEMERINTAH segera membentuk Badan Cyber Nasional (BCN). Badan "intelijen" ini antara lain bertugas memantau aktivitas bincang-bincang (chatting) di media sosial, khususnya yang terkait dengan radikalisme dan berita palsu (hoax).

Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, rencana pembentukan BCN ini paling lambat direalisasikan dalam satu bulan ke depan. 

Disebutkan, ada beberapa konten yang akan menjadi fokus pengamanan lembaga tersebut, antara lain adalah media sosial dan media privat, macam aktivitas bincang-bincang.

”Yang kami fokuskan itu untuk pengamanan yang media sosial. Media sosial ini rawan diakses semua orang. Kalau yang privat kita hanya pantau, kan tidak mau juga orang merasa dikejar hal-hal pribadinya," kata Rudiantara, Selasa (3/1/2017), dikutip CNN Indonesia.

Menkopolhukam Wiranto menyebutkan tingginya pengguna Internet saat ini ternyata telah meningkatkan penyebaran isu-isu radikalisme yang mengarah pada fitnah dan pelecehan.

Pemerintah merencanakan pembentukan BCN sejak dua tahun lalu, namun batal dibentuk demi penghematan anggaran. Sebagai gantinya, tugas lembaga ini dialihkan ke lembaga yang sudah ada, yakni Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg).

Wacana pembentukan BCN kembali mencuat setelah maraknya hoax di media sosial, terutama dipicu oleh rumor pekerja China yang menyerbu Indonesia, yang membuat gerah pemerintah.*

Terlalu Lama Buka Facebook Bisa Membuat Anda Menderita

Terlalu Lama Buka Facebook Bisa Membuat Anda Menderita

Terlalu Lama Buka Facebook Bisa Membuat Anda Menderita
Terlalu banyak menghabiskan waktu di Facebook, dengan melihat foto-foto pasangan yang bahagia atau foto-foto liburan, bisa membuat Anda menderita.

Demikian menurut hasil penelitian terbaru yang dilansir BBC Indonesia. Menurut tim peneliti di Universitas Copenhagen, Denmark, penggunaan media sosial secara berlebihan bisa memicu rasa cemburu.

Hasil kajian yang melibatkan 1.300 responden --sebagian besar perempuan-- ini diterbitkan di jurnal Cyberpsychology, Behaviour, and Social Networking.

"Memakai media sosial seperti Facebook secara terus-menerus bisa berdampak negatif terhadap kondisi emosional Anda," kata peneliti.

"Pemakaian yang berlebihan juga bisa membuat Anda merasa tidak puas dengan apa yang Anda punya saat ini."

Terlalu lama membuka Facebook bisa memunculkan perasaan negatif setelah membaca update atau melihat foto-foto di Facebook. Para pakar mengatakan, hal itu disebabkan oleh yang disebut sebagi 'perbandingan sosial yang tidak realistis'.

Para peneliti menyarankan untuk lebih aktif berkomunikasi dengan para pengguna lain di media sosial. Ini jauh lebih baik daripada hanya 'memelototi foto-foto tanpa bertegur sapa dengan pengguna lain'.

Cara lain adalah dengan berhenti sama sekali memakai media sosial, misalnya selama satu pekan, yang lebih sering disebut sebagai detoks digital, memutus sama sekali 'keterkaitan dengan Facebook, Twitter, dan sejenisnya'.

Hasil survei terbaru tentang Facebook ini memperkuat hasil studi sebelumnya, terutama dalam hal merasa diri tidak seberuntung atau sebahagia teman di Facebook.

Facebooker memang umumnya mengungagah status atau foto-foto mereka dalam keadaan bahagia, senang, dan bahkan pamer kekayaan dan kecantikan atau ketampanan.*

Terlalu Lama Buka Facebook Bisa Membuat Anda Menderita
Terlalu banyak menghabiskan waktu di Facebook, dengan melihat foto-foto pasangan yang bahagia atau foto-foto liburan, bisa membuat Anda menderita.

Demikian menurut hasil penelitian terbaru yang dilansir BBC Indonesia. Menurut tim peneliti di Universitas Copenhagen, Denmark, penggunaan media sosial secara berlebihan bisa memicu rasa cemburu.

Hasil kajian yang melibatkan 1.300 responden --sebagian besar perempuan-- ini diterbitkan di jurnal Cyberpsychology, Behaviour, and Social Networking.

"Memakai media sosial seperti Facebook secara terus-menerus bisa berdampak negatif terhadap kondisi emosional Anda," kata peneliti.

"Pemakaian yang berlebihan juga bisa membuat Anda merasa tidak puas dengan apa yang Anda punya saat ini."

Terlalu lama membuka Facebook bisa memunculkan perasaan negatif setelah membaca update atau melihat foto-foto di Facebook. Para pakar mengatakan, hal itu disebabkan oleh yang disebut sebagi 'perbandingan sosial yang tidak realistis'.

Para peneliti menyarankan untuk lebih aktif berkomunikasi dengan para pengguna lain di media sosial. Ini jauh lebih baik daripada hanya 'memelototi foto-foto tanpa bertegur sapa dengan pengguna lain'.

Cara lain adalah dengan berhenti sama sekali memakai media sosial, misalnya selama satu pekan, yang lebih sering disebut sebagai detoks digital, memutus sama sekali 'keterkaitan dengan Facebook, Twitter, dan sejenisnya'.

Hasil survei terbaru tentang Facebook ini memperkuat hasil studi sebelumnya, terutama dalam hal merasa diri tidak seberuntung atau sebahagia teman di Facebook.

Facebooker memang umumnya mengungagah status atau foto-foto mereka dalam keadaan bahagia, senang, dan bahkan pamer kekayaan dan kecantikan atau ketampanan.*

Sopir Bus dan Kemenhub Komentari Om Telolet Om

Sopir Bus dan Kemenhub Komentari Om Telolet Om

Sopir Bus dan Kemenhub Komentari Om Telolet Om
OM TELOLET OM mendunia. Meski sudah mulai mereda, namun komentar sejumlah sopir bis berikut ini layak disimak.

Dilansir CNN Indonesia, Kamis (22/10/2016), sejumlah sopir bus memberikan komentar soal Om Telolet Om ini.

Salah satu sopir bus, Saimin, mengatakan, suara klason bus "telolet" memang dinanti oleh para pemburunya di sepanjang jalurnya menuju Solo, Wonogiri, dan Purwantoro.

"Walah mas, sekarang itu tidak cuma bocah cilik. Ibu-ibu saja udah pada minta bunyiin di pinggir jalan pakai karton ditulis. Terus orang yang naik motor juga pada minta kalau bus pada lewat," ujarnya.

Menurutnya, permintaan membunyikan telolet atau 'Om Telolet Om' tidak hanya di sepanjang jalur trayeknya, melainkan juga di terminal masing-masing kota yang disinggahi, yakni Terminal Krisak, Wonogiri, dan lainnya.

Karena menyenangkan bagi anak-anak, situasi tersebut juga sempat dimanfaatkan oleh sebagian supir bus. Seorang operator bus Gajah Mungkur, sempat memberikan syarat kepada anak-anak agar mau membunyikan klakson.

"Teman saya, orang Gajah Mungkur. Suruh anak-anak itu joget-joget dulu baru dibunyiin klaksonnya. Ya, mereka akhirnya pada joget," ujar salah seorang operator lain menimpali.

Sopir bus Sinar Jaya, Priyanto, menjelaskan, demam meminta suara telolelet kepada bus yang melintas sudah terasa sejak tahun lalu. Namun, baru benar-benar dirasa pada penghujung tahun ini.

Ia mengaku sudah biasa menuruti permintaan para pemburu suara telolet dalam perjalanan dengan menekan beberapa tombol dekat kemudinya.

Menurutnya, klakson variasi itu sudah banyak ditemui sejak 2014 lalu di bengkel-bengkel variasi klakson bus.

Di pihak lain, pihak Kementerian Perhubungan mengimbau kepada operator bus untuk tidak menuruti permintaan pemburu telolet.

Menteri Perhubungan tidak pernah melarang Bus Gunakan klakson Tolalet. Menhub menghimbau supir tidak menuruti permintaan membunyikan klakson di jalan yang membayakan keselamatan pemburu klakson.

Imbauan tersebut karena cara yang dilakukan pemburu telolet terkesan membahayakan. Dari mengejar bus, hingga masuk tol.

Sopir bus jurusan Yogyakarta-Semarang, Joko Sentosa, mengaku telah memasang klakson telolet sejak dua bulan lalu. Sebelumnya, ia hanya menggunakan klakson biasa.

"Saya pasang dua bulan yang lalu. Saya beli rangkaiannya terus saya pasang. ya biar ramai saja suara klaksonnya. Suaranya juga lucu kok,” tutur Joko di terminal Jombor, Sleman, DIY, speerti dilansir merdeka.com.
Menurutnya, fenomena pemburu telolet sudah ada sejak beberapa bulan belakangan. Namun, baru sebulan terakhir ini menjadi sangat ramai. Ia mengaku, kebanyakan pemburu telolet yang ditemuinya adalah anak muda dan anak-anak kecil.

Joko merasa tak keberatan untuk membunyikan klakson bersuara unik tersebut ketika ada segerombolan anak kecil yang memintanya. Bahkan, ia merasa bahagia dan teringat anaknya dirumah ketika anak-anak kecil tersebut gembira hingga berjingkrak-jingkrak karena suara klaksonnya.

Tak berbeda jauh dengan Joko, Suprapto (46) yang juga berprofesi sebagai supir bus mengaku tak keberatan untuk membunyikan klaksonnya ketika melihat gerombolan anak-anak di jalan.

Namun, ia kadang juga merasa cemas karena para bocah ini melambaikan tangan mereka, sedangkan bus yang ia kemudikan melaju dengan kencang. Ia khawatir mereka tersambar bus. Oleh karena itu, ia sering menjauhkan laju busnya dari trotoar ketika menemui pemburu telolet.

OM TELOLET OM!!!

Sopir Bus dan Kemenhub Komentari Om Telolet Om
OM TELOLET OM mendunia. Meski sudah mulai mereda, namun komentar sejumlah sopir bis berikut ini layak disimak.

Dilansir CNN Indonesia, Kamis (22/10/2016), sejumlah sopir bus memberikan komentar soal Om Telolet Om ini.

Salah satu sopir bus, Saimin, mengatakan, suara klason bus "telolet" memang dinanti oleh para pemburunya di sepanjang jalurnya menuju Solo, Wonogiri, dan Purwantoro.

"Walah mas, sekarang itu tidak cuma bocah cilik. Ibu-ibu saja udah pada minta bunyiin di pinggir jalan pakai karton ditulis. Terus orang yang naik motor juga pada minta kalau bus pada lewat," ujarnya.

Menurutnya, permintaan membunyikan telolet atau 'Om Telolet Om' tidak hanya di sepanjang jalur trayeknya, melainkan juga di terminal masing-masing kota yang disinggahi, yakni Terminal Krisak, Wonogiri, dan lainnya.

Karena menyenangkan bagi anak-anak, situasi tersebut juga sempat dimanfaatkan oleh sebagian supir bus. Seorang operator bus Gajah Mungkur, sempat memberikan syarat kepada anak-anak agar mau membunyikan klakson.

"Teman saya, orang Gajah Mungkur. Suruh anak-anak itu joget-joget dulu baru dibunyiin klaksonnya. Ya, mereka akhirnya pada joget," ujar salah seorang operator lain menimpali.

Sopir bus Sinar Jaya, Priyanto, menjelaskan, demam meminta suara telolelet kepada bus yang melintas sudah terasa sejak tahun lalu. Namun, baru benar-benar dirasa pada penghujung tahun ini.

Ia mengaku sudah biasa menuruti permintaan para pemburu suara telolet dalam perjalanan dengan menekan beberapa tombol dekat kemudinya.

Menurutnya, klakson variasi itu sudah banyak ditemui sejak 2014 lalu di bengkel-bengkel variasi klakson bus.

Di pihak lain, pihak Kementerian Perhubungan mengimbau kepada operator bus untuk tidak menuruti permintaan pemburu telolet.

Menteri Perhubungan tidak pernah melarang Bus Gunakan klakson Tolalet. Menhub menghimbau supir tidak menuruti permintaan membunyikan klakson di jalan yang membayakan keselamatan pemburu klakson.

Imbauan tersebut karena cara yang dilakukan pemburu telolet terkesan membahayakan. Dari mengejar bus, hingga masuk tol.

Sopir bus jurusan Yogyakarta-Semarang, Joko Sentosa, mengaku telah memasang klakson telolet sejak dua bulan lalu. Sebelumnya, ia hanya menggunakan klakson biasa.

"Saya pasang dua bulan yang lalu. Saya beli rangkaiannya terus saya pasang. ya biar ramai saja suara klaksonnya. Suaranya juga lucu kok,” tutur Joko di terminal Jombor, Sleman, DIY, speerti dilansir merdeka.com.
Menurutnya, fenomena pemburu telolet sudah ada sejak beberapa bulan belakangan. Namun, baru sebulan terakhir ini menjadi sangat ramai. Ia mengaku, kebanyakan pemburu telolet yang ditemuinya adalah anak muda dan anak-anak kecil.

Joko merasa tak keberatan untuk membunyikan klakson bersuara unik tersebut ketika ada segerombolan anak kecil yang memintanya. Bahkan, ia merasa bahagia dan teringat anaknya dirumah ketika anak-anak kecil tersebut gembira hingga berjingkrak-jingkrak karena suara klaksonnya.

Tak berbeda jauh dengan Joko, Suprapto (46) yang juga berprofesi sebagai supir bus mengaku tak keberatan untuk membunyikan klaksonnya ketika melihat gerombolan anak-anak di jalan.

Namun, ia kadang juga merasa cemas karena para bocah ini melambaikan tangan mereka, sedangkan bus yang ia kemudikan melaju dengan kencang. Ia khawatir mereka tersambar bus. Oleh karena itu, ia sering menjauhkan laju busnya dari trotoar ketika menemui pemburu telolet.

OM TELOLET OM!!!

Cara Membuat Status Facebook dengan Background Warna

Cara Membuat Status Facebook dengan Background Warna

Cara Membuat Status Facebook dengan Background Warna
DALAM seminggu terakhir ini kita mulai akrab dengan status update Facebook dengan latar (background) berwarna.

Teks update status di Facebook jadinya tak melulu berwarna putih sebagaimana sebelumnya. Latar belakangnya kini bisa diimbuhi dengan aneka warna, sehingga tampil lebih bervariasi.

Cara Membuat Status Facebook dengan Background Warna sangat mudah. Facebooker atau pengguna Facebook cukup memperbarui aplikasi Facebook ke versi teranyar (versi 106.0.0.26.68 untuk Android), lalu mulai menulis sesuatu di kolom status (What’s on your mind).

Aplikasi kemudian akan menampilkan pilihan warna yang bisa dijadikan latar belakang status, berupa lingkaran-lingkaran kecil di bagian bawah seperti bisa dilihat dalam gambar di samping.

Total terdapat tujuh macam warna yang bisa dipilih, mulai dari kuning, gradasi ungu, hingga abu-abu.

Pilihan-pilihan warna tersebut agaknya ditujukan untuk memperkuat mood dalam status pengguna, seperti sedang merasa senang (kuning) atau muram (abu-abu).

Hasil akhirnya tampak sedikit berbeda dari update status biasa, dengan teks tebal berwarna putih di atas background warna berbentuk persegi panjang. 

Cara Membuat Status Facebook dengan Background Warna 

  1. Buka aplikasi Facebook di Smartphone / HP Android
  2. Tekan tulisan“What’s on your mind?” atau area kosongnya 
  3. Secara otomatis akan muncul pemilihan warna untuk backgroud dari status yang akan dibuat.
  4. Pilih warna latar dan mulai menuliskan status update.

Warna yang ditampilkan bermacam-macam, mulai dari putih, kuning, oranye gradasi, merah, hijau biru gradasi, biru, ungu gradasi, dan hitam.

Anda dapat memilih warna background sesuai selera dan tinggal mengetik status yang diinginkan. Hasilnya, Anda akan melihat status dengan huruf yang tebal dan warna background yang menarik.

VIDEO UPDATE STATUS FACEBOOK WARNA LATAR


Demikian Cara Membuat Status Facebook dengan Background Warna.*

Cara Membuat Status Facebook dengan Background Warna
DALAM seminggu terakhir ini kita mulai akrab dengan status update Facebook dengan latar (background) berwarna.

Teks update status di Facebook jadinya tak melulu berwarna putih sebagaimana sebelumnya. Latar belakangnya kini bisa diimbuhi dengan aneka warna, sehingga tampil lebih bervariasi.

Cara Membuat Status Facebook dengan Background Warna sangat mudah. Facebooker atau pengguna Facebook cukup memperbarui aplikasi Facebook ke versi teranyar (versi 106.0.0.26.68 untuk Android), lalu mulai menulis sesuatu di kolom status (What’s on your mind).

Aplikasi kemudian akan menampilkan pilihan warna yang bisa dijadikan latar belakang status, berupa lingkaran-lingkaran kecil di bagian bawah seperti bisa dilihat dalam gambar di samping.

Total terdapat tujuh macam warna yang bisa dipilih, mulai dari kuning, gradasi ungu, hingga abu-abu.

Pilihan-pilihan warna tersebut agaknya ditujukan untuk memperkuat mood dalam status pengguna, seperti sedang merasa senang (kuning) atau muram (abu-abu).

Hasil akhirnya tampak sedikit berbeda dari update status biasa, dengan teks tebal berwarna putih di atas background warna berbentuk persegi panjang. 

Cara Membuat Status Facebook dengan Background Warna 

  1. Buka aplikasi Facebook di Smartphone / HP Android
  2. Tekan tulisan“What’s on your mind?” atau area kosongnya 
  3. Secara otomatis akan muncul pemilihan warna untuk backgroud dari status yang akan dibuat.
  4. Pilih warna latar dan mulai menuliskan status update.

Warna yang ditampilkan bermacam-macam, mulai dari putih, kuning, oranye gradasi, merah, hijau biru gradasi, biru, ungu gradasi, dan hitam.

Anda dapat memilih warna background sesuai selera dan tinggal mengetik status yang diinginkan. Hasilnya, Anda akan melihat status dengan huruf yang tebal dan warna background yang menarik.

VIDEO UPDATE STATUS FACEBOOK WARNA LATAR


Demikian Cara Membuat Status Facebook dengan Background Warna.*

Lebay !!! Om Telolet Om Disebut Pendangkalan Akidah...

Lebay !!! Om Telolet Om Disebut Pendangkalan Akidah...

Lebay !!! Om Telolet Om Disebut Pendangkalan Akidah...

DEMAM Om Telolet Om melanda dunia. Fenomena unik namun positif di tengah penatnya isu penistaan agama dan terorisme.

Namun, ada yang LEBAY. Om Telolet Om dikait-kaitkan dengan agama (akidah). Seperti muncul di media sosial, disebutkan, Om Telolet Om itu artinya "Tuhan" dan "Terompet". Om adalah Tuhan dalam agama Hindu. Telolet disebut sinonimnya Terompet.

Bahkan, ada yang menyebutkan, Om Telolet Om artinya "Aku Yahudi!". Lebay!

Om itu sebutan untuk paman atau orang yang lebih tua. Telolet adalah suara klakson bus. Itu saja. Sesederhana itu.

Jadi, jangan lebay deh! Jangan usuk kegirangan publik yang tidak mengusik ketentraman dan tidak menistakan apa pun! Om Telolet Om tidak berarti apa-apa selain SUARA KLAKSON BUS!!!

Ini dia postingan LEBAY soal Om Telolet Om.

Bahkan, ada juga HOAX yang entah dari mana, menyebutkan: "Stop berbicara "Om telolet Om", semua ini hanya akal-akalan tokoh yahudi (Nelsen Mandela) yang di populerkan pada 20SM yang berarti "setan adalah segalanya" jangan mau di bodohi dengan trend"

Bahkan, sekadar tambahan, ada lagi yang LEBAY dengan menyamakan sepeda motor dengan SALIB. Halah....! Please deh...!!!

Lebay !!! Om Telolet Om Disebut Pendangkalan Akidah...
Lebay !!! Om Telolet Om Disebut Pendangkalan Akidah...

Lebay !!! Om Telolet Om Disebut Pendangkalan Akidah...
Lebay !!! Om Telolet Om Disebut Pendangkalan Akidah...
Lebay !!! Sepeda Motor Diasosiasikan Salib
Lebay !!! Sepeda Motor Diasosiasikan Salib
Lebay !!! Om Telolet Om Disebut Pendangkalan Akidah...! Kalo sudah begini, ujung-ujungnya nanti umat Islam lagi yang disalahkan: INTOLERAN! Please deh, JANGAN LEBAY !!!

Mari kita ceria bersama.... OM TELOLET OM...!!!!
Lebay !!! Om Telolet Om Disebut Pendangkalan Akidah...

DEMAM Om Telolet Om melanda dunia. Fenomena unik namun positif di tengah penatnya isu penistaan agama dan terorisme.

Namun, ada yang LEBAY. Om Telolet Om dikait-kaitkan dengan agama (akidah). Seperti muncul di media sosial, disebutkan, Om Telolet Om itu artinya "Tuhan" dan "Terompet". Om adalah Tuhan dalam agama Hindu. Telolet disebut sinonimnya Terompet.

Bahkan, ada yang menyebutkan, Om Telolet Om artinya "Aku Yahudi!". Lebay!

Om itu sebutan untuk paman atau orang yang lebih tua. Telolet adalah suara klakson bus. Itu saja. Sesederhana itu.

Jadi, jangan lebay deh! Jangan usuk kegirangan publik yang tidak mengusik ketentraman dan tidak menistakan apa pun! Om Telolet Om tidak berarti apa-apa selain SUARA KLAKSON BUS!!!

Ini dia postingan LEBAY soal Om Telolet Om.

Bahkan, ada juga HOAX yang entah dari mana, menyebutkan: "Stop berbicara "Om telolet Om", semua ini hanya akal-akalan tokoh yahudi (Nelsen Mandela) yang di populerkan pada 20SM yang berarti "setan adalah segalanya" jangan mau di bodohi dengan trend"

Bahkan, sekadar tambahan, ada lagi yang LEBAY dengan menyamakan sepeda motor dengan SALIB. Halah....! Please deh...!!!

Lebay !!! Om Telolet Om Disebut Pendangkalan Akidah...
Lebay !!! Om Telolet Om Disebut Pendangkalan Akidah...

Lebay !!! Om Telolet Om Disebut Pendangkalan Akidah...
Lebay !!! Om Telolet Om Disebut Pendangkalan Akidah...
Lebay !!! Sepeda Motor Diasosiasikan Salib
Lebay !!! Sepeda Motor Diasosiasikan Salib
Lebay !!! Om Telolet Om Disebut Pendangkalan Akidah...! Kalo sudah begini, ujung-ujungnya nanti umat Islam lagi yang disalahkan: INTOLERAN! Please deh, JANGAN LEBAY !!!

Mari kita ceria bersama.... OM TELOLET OM...!!!!

"Om Telolet Om" Jadi Juara di Trending Topic Dunia

"Om Telolet Om" Jadi Juara di Trending Topic Dunia

"Om Telolet Om" Jadi Juara di Trending Topic Dunia
"Om Telolet Om" Jadi Juara di Trending Topic Dunia. Ilustrasi: Merdeka.com
"Om Telolet Om" Jadi Juara di Trending Topic Dunia. Telolet adalah suara klakson bus. Tambahkan "om" sehingga menjadi  "Om Tolelot Om" berasal dari teriakan kepad sopir bus untuk membunyikan klasonnya.

Kini banyak anak-anak, remaja, dan dewasa rela menunggu di pinggir jalan untuk menunggu bus lewat kemudian meminta dgn cara berteriak sembari memberi kode kepada supir bus agar membunyikan "TELOLET". Bahkan ada yang datang ke terminal bus hanya untuk minta sopir bus membunyikan klakson: Om Telolet Om!

Jadi, 'Om telolet om' adalah sebuah teriakan yang biasa diucapkan oleh anak-anak di pinggir jalan ketika sebuah bus melintas dengan harapan sopir akan membunyikan klakson yang unik. "Telolet telolet," begitu bunyinya.

'Om telolet om' mendadak jadi populer sejak Selasa (20/12/2016) malam, setelah berbagai DJ terkenal mencuitkannya. 

Tapi sebelum itu, video-video lucu memperlihatkan orang-orang dewasa meminta 'telolet' ke supir bus sudah lebih dulu viral di Facebook.Tampaknya ada tren 'telolet challenge' dan 'demam telolet' yang sudah beberapa pekan menggerilya dari satu akun ke akun lain.

Dalam video-video yang memancing tawa itu, terlihat ekspresi kegembiraan tersendiri ketika Anda berhasil meminta supir membunyikan klakson dengan lambaian tangan dan teriakan, "Om telolet ommmmmm!" beramai-ramai.

Dilansir BBC Indonesia, tak ada yang bisa lepas dari jeratan 'om tolelot om', bahkan Donald Trump, presiden terpilih Amerika Serikat tak lepas dari serbuan orang-orang yang memintanya membunyikan klakson bus.

Fenomena "om telolet om" semakin mewabah pasca-dibicarakan selebritas dunia di Twitter. Mulanya, DJ Snake dan Zedd yang mengicaukannya, lalu disusul rekan-rekan sesama DJ seperti Hardwell dan Martin Garrix.

Menurut pantauan KompasTekno, Rabu (21/12/2016) siang, sebanyak 637.000-an kicauan menggunakan kata kunci "om telolet om" di mikroblog berlogo burung itu.

Alhasil, Twitter menempatkan "om telolet om" sebagai topik terpopuler untuk cakupan dunia atau disebut Trending Topic (TT) Worldwide.

TT wilayah Indonesia sebenarnya sudah menampilkan "om telolet om" di urutan pertama sejak Rabu pagi. Namun, saat ini justru "om telolet om" sudah lengser dari 10 daftar TT Indonesia.

Wabah "om telolet om" justru makin menjadi-jadi di cakupan global, mulai dari yang yang masih bertanya-tanya apa maksud dari "om telolet om", memberi jawaban bahwa "om telolet om" adalah guyonan Indonesia yang menjadi viral, hingga mereka yang beropini soal "om telolet om", bahkan meresponsnya dengan karya.

Di Indonesia sendiri, fenomena tersebut sudah mewabah sejak beberapa bulan lalu di internet. Mulanya, video-video "om telolet om" ramai dibagikan di Facebook. Video itu direkam oleh seseorang yang melihat kegirangan anak-anak di pinggir jalan menanti datangnya bus antar-kota.

Bunyi yang seakan menyebut kata "telolet" sendiri tak lain adalah bunyi klakson bus antar-kota. Anak-anak meminta si sopir bus mengeluarkan bunyi "telolet" ketika melintas.

Maka dari itu, ujung-ujungnya fenomena ini disebut "om telolet om", mencontohkan permintaan anak-anak ke sopir.

Pengunggah video "om telolet om" hendak menyampaikan bahwa kebahagiaan bisa muncul dari hal-hal sederhana. Lama-kelamaan, banyak versi video "om telolet om" yang muncul dan jadi guyonan.

VIDEO OM TELOLET OM !!!


Ada ada saja ya? But, yang ini just for FUN! Kita memang butuh hiburan segar dan sederhana, biar gak mumet ngurusin berbagai isu berat, mulai soal penistaan agama, kebhinekaan, NKRI, uang rupiah baru, hingga terorisme. 

Jadi...? Katakan saja: "Om Telolet Om" !!! ☺☝

"Om Telolet Om" Jadi Juara di Trending Topic Dunia
"Om Telolet Om" Jadi Juara di Trending Topic Dunia. Ilustrasi: Merdeka.com
"Om Telolet Om" Jadi Juara di Trending Topic Dunia. Telolet adalah suara klakson bus. Tambahkan "om" sehingga menjadi  "Om Tolelot Om" berasal dari teriakan kepad sopir bus untuk membunyikan klasonnya.

Kini banyak anak-anak, remaja, dan dewasa rela menunggu di pinggir jalan untuk menunggu bus lewat kemudian meminta dgn cara berteriak sembari memberi kode kepada supir bus agar membunyikan "TELOLET". Bahkan ada yang datang ke terminal bus hanya untuk minta sopir bus membunyikan klakson: Om Telolet Om!

Jadi, 'Om telolet om' adalah sebuah teriakan yang biasa diucapkan oleh anak-anak di pinggir jalan ketika sebuah bus melintas dengan harapan sopir akan membunyikan klakson yang unik. "Telolet telolet," begitu bunyinya.

'Om telolet om' mendadak jadi populer sejak Selasa (20/12/2016) malam, setelah berbagai DJ terkenal mencuitkannya. 

Tapi sebelum itu, video-video lucu memperlihatkan orang-orang dewasa meminta 'telolet' ke supir bus sudah lebih dulu viral di Facebook.Tampaknya ada tren 'telolet challenge' dan 'demam telolet' yang sudah beberapa pekan menggerilya dari satu akun ke akun lain.

Dalam video-video yang memancing tawa itu, terlihat ekspresi kegembiraan tersendiri ketika Anda berhasil meminta supir membunyikan klakson dengan lambaian tangan dan teriakan, "Om telolet ommmmmm!" beramai-ramai.

Dilansir BBC Indonesia, tak ada yang bisa lepas dari jeratan 'om tolelot om', bahkan Donald Trump, presiden terpilih Amerika Serikat tak lepas dari serbuan orang-orang yang memintanya membunyikan klakson bus.

Fenomena "om telolet om" semakin mewabah pasca-dibicarakan selebritas dunia di Twitter. Mulanya, DJ Snake dan Zedd yang mengicaukannya, lalu disusul rekan-rekan sesama DJ seperti Hardwell dan Martin Garrix.

Menurut pantauan KompasTekno, Rabu (21/12/2016) siang, sebanyak 637.000-an kicauan menggunakan kata kunci "om telolet om" di mikroblog berlogo burung itu.

Alhasil, Twitter menempatkan "om telolet om" sebagai topik terpopuler untuk cakupan dunia atau disebut Trending Topic (TT) Worldwide.

TT wilayah Indonesia sebenarnya sudah menampilkan "om telolet om" di urutan pertama sejak Rabu pagi. Namun, saat ini justru "om telolet om" sudah lengser dari 10 daftar TT Indonesia.

Wabah "om telolet om" justru makin menjadi-jadi di cakupan global, mulai dari yang yang masih bertanya-tanya apa maksud dari "om telolet om", memberi jawaban bahwa "om telolet om" adalah guyonan Indonesia yang menjadi viral, hingga mereka yang beropini soal "om telolet om", bahkan meresponsnya dengan karya.

Di Indonesia sendiri, fenomena tersebut sudah mewabah sejak beberapa bulan lalu di internet. Mulanya, video-video "om telolet om" ramai dibagikan di Facebook. Video itu direkam oleh seseorang yang melihat kegirangan anak-anak di pinggir jalan menanti datangnya bus antar-kota.

Bunyi yang seakan menyebut kata "telolet" sendiri tak lain adalah bunyi klakson bus antar-kota. Anak-anak meminta si sopir bus mengeluarkan bunyi "telolet" ketika melintas.

Maka dari itu, ujung-ujungnya fenomena ini disebut "om telolet om", mencontohkan permintaan anak-anak ke sopir.

Pengunggah video "om telolet om" hendak menyampaikan bahwa kebahagiaan bisa muncul dari hal-hal sederhana. Lama-kelamaan, banyak versi video "om telolet om" yang muncul dan jadi guyonan.

VIDEO OM TELOLET OM !!!


Ada ada saja ya? But, yang ini just for FUN! Kita memang butuh hiburan segar dan sederhana, biar gak mumet ngurusin berbagai isu berat, mulai soal penistaan agama, kebhinekaan, NKRI, uang rupiah baru, hingga terorisme. 

Jadi...? Katakan saja: "Om Telolet Om" !!! ☺☝

adv/http://www.mogflat.blogspot.com|https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKVkD27KW3GUnmN55prbR7WnG8cvHYwGRXTNqSumH7_Nee1Wnx8Zps5L7zac8cyYFuHIzbKOpL9mBlQi1XnZyUmpE9uKJgaIOwLGytAnTqyqspsuuw4EeFPA3B0u6aYRNy3IgcALoPrIs/s1600/adv-5.jpg

Random Posts

randomposts

Like Us

fb/https://www.facebook.com/envato